Pages

Hari Kiamat

Pengertian, Definisi, Alam dan Peristiwa Sesudah Hari Kiamat - Alam Barzah, Yaumul Ba'ats dan Yaumul Mahsyar

Hari kiamat adalah hari akhir kehidupan seluruh manusia dan makhluk hidup di dunia yang harus kita percayai kebenaran adanya yang menjadi jembatan untuk menuju ke kehidupan selanjutnya di akhirat yang kekal dan abadi. Iman kepada hari kiamat adalah rukum iman yang ke-lima. Hari kiamat diawali dengan tiupan terompet sangkakala oleh malaikat isrofil untuk menghancurkan bumi beserta seluruh isinya.

Hari kiamat tidak dapat diprediksi kapan akan datangnya karena merupakan rahasia Allah SWT yang tidak diketahui siapa pun. Namun dengan demikian kita masih bisa mengetahui kapan datangnya hari kiamat dengan melihat tanda-tanda yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW. Orang yang beriman kepada Allah SWT dan banyak berbuat kebaikan akan menerima imbalan surga yang penuh kenikmatan, sedangkan bagi orang-orang kafir dan penjahat akan masuk neraka yang sangat pedih untuk disiksa.


Dengan percaya dan beriman kepada hari kiamat kita akan didorong untuk selalu berbuat kebajikan, menghindari perbuatan dosa, tidak mudah putus asa, tidak sombong, tidak takabur dan lain sebagainya karena segala amal perbuatan kita dicatat oleh malaikat yang akan digunakan sebagai bahan referensi apakah kita akan masuk surga atau neraka.

Peristiwa dan Kehidupan Setelah Hari Kiamat :

1. Alam Kubur / Alam Barzah
Alam barzah adalah suatu dunia lain yang dimasuki seseorang setelah meninggal dunia untuk menunggu datangnya kebangkitan kembali pada hari kiamat. Pada alam kubur akan datang malaikat mungkar dan nakir untuk memberikan pertanyaan seputar keimanan dan amal perbuatan kita. Jika kita beriman dan termasuk orang baik, maka di dalam kubur akan mendapatkan nikmat kubur yang sangat menyenangkan daripada nikmat duniawi, sedangkan sebaliknya bagi orang yang tidak beriman kepada Allah SWT, siksa kubur praneraka yang pedih sudah menanti di depan mata.

2. Hari Kebangkitan / Yaumul Ba'ats
hari kebangkitan adalah hari dibangkitkannya seluruh manusia yang pernah hidup di dunia baik yang tua, muda, besar, kecil, hidup di zaman nabi adam as, baru lahir saat kiamat, dsb akan bangkit kembali dari mati untuk kemudian dihitung amal perbauatannya selama hidup di dunia. Seluruh manusia akan bangkit kembali dengan jasad / tubuh ketika masih muda dengan raut yang wajah berbeda-beda sesuai amal perbuatannya.

3. Yaumul Mahsyar
Yaumul mahsyar adalah tempat dikumpulkannya seluruh manusia dan makhluk hidup lainnya dari awal zaman hingga akhir jaman untuk dilakukan hisab atau peradilan tuhan yang sejati pada yaumul hisab. Selanjutnya akan diberangkatkan ke jembatan shirotol mustaqim untuk disortir mana yang masuk surga dan mana yang masuk neraka. Yang terjatuh di neraka akan menjadi penghuni neraka baik yang kekal abadi maupun yang hanya sementara hingga segala dosa-dosanya yang tidak terlalu berat itu termaafkan.

Istilah-istilah Hari Kiamat

Berikut ini adalah nama-nama hari kiamat yang disebutkan dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an:

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Zalzalah” artinya hari datangnya kegoncangan dan keributan.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Hizab” artinya hari perhitungan.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Muhasabah” artinya hari perhitungan amal yang baik atau yang buruk.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumusshoo’iqah” artinya hari yang penuh suara gemuruh.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Qiyamah” artinya hari kebangkitan sesudah mati.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Hasrah” artinya hari penyesalan.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumuddiin” artinya hari keputusan.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumun’Asiirun” artinya hari yang penuh kesengsaraan.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Khizyi” artinya hari yang menghinakan bagi orang-orang yang durhaka kepada Allah SWT.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Ba’tsi” artinya hari kebangkitan dari kubur.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Jam’i” artinya hari dikumpulkannya semua makhluk.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Waqi’ah” artinya hari terjadinya keadaan yang hebat (huru-hara kiamat).

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Ghosyiyah” artinya hari yang menutupi (hari yang penuh rahasia yang hanya Allah SWT yang mengetahui-Nya).

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumur Rojifah” artinya hari terjadinya gempa yang besar-besar.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Haqqah” artinya hari datangnya kebenaran hakiki.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumuththommah” artinya hari adanya marabahaya yang amat besar sekali.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Fashli” artinya hari dipisahkannya hal-hal yang benar dan salah.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Qori’ah” artinya hari adanya kejadian yang membingungkan.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Jaza’ ” artinya hari pembalasan amal yang baik dan yang buruk.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Wazni” artinya hari ditimbangnya segala amalan yang bagus dan yang jahat.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul ‘Arod” artinya hari diperlihatkan semua amalan.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumushshokhkhoh” artinya hari yang memekakkan telinga.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumuttalaq” artinya hari pertemuan dengan Allah SWT.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumuttanad” artinya hari ketika semua manusia mengundang kesana-kemari tidak karuan yang dituju.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Wa’id” artinya hari ancaman bagi manusia yang durhakan kepada Allah SWT.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yauma laa yanfa’u maalun wa laa banuuna illa man atallaha biqolbin saliim” artinya hari yang di kala itu tidak ada kemanfaatan sama sekali harta dan anak, melainkan manusia yang menghadap kepada Allah SWT dengan hati yang tentram dan selamat.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumunnusyur” artinya hari kembali sehabis mati.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumul Khulud” artinya hari kekekalan, baik di surga ataupun di neraka bagi penghuninya masing-masing.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yaumun laa roiba fiihi” artinya hari yang tidak perlu disanksikan lagi akan kepastian terlaksananya.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yauma tosykhoshu fiihil abshor” artinya hari yang semua mata terbuka dan dapat menyaksikan amalannya masing-masing.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yauma yafirrul mar-u min akhiihi wa ummihi wa abiihi wa shoohibatihi wa baniihi” artinya hari ketika manusia berlarian berpisah dari saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya, dan anaknya.

Hari kiamat dinamakan dengan “Yauma laa tajzi nafsun ‘an nafsin syai’an” artinya hari ketika manusia tidak dapat memberikan pertolongan kepada yang lainnya.

PERJALANAN MENUJU AKHIRAT

Hari akhirat adalah hari setelah kematian yang wajib diyakini kebenarannya oleh setiap orang yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan kebenaran agama-Nya. Hari itulah hari pembalasan semua amal perbuatan manusia, hari perhitungan yang sempurna dan hari ditampakkannya semua perbuatan yang tersembunyi sewaktu di dunia. Juga pada hari itu orang-orang yang melampaui batas akan berkata penuh penyesalan:

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.”[al-Fajr/89:24]

Maka hendaknya setiap Muslim yang mementingkan keselamatan dirinya benar-benar memberikan perhatian besar dalam mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk menghadapi hari yang kekal abadi ini. Karena pada hakikatnya, hari inilah masa depan bagi manusia yang sesungguhnya. Kedatangan hari tersebut sangat cepat seiring dengan cepat berlalunya usia manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” [al-Hasyr/59:18]

Dalam menafsirkan ayat di atas Imam Qatâdah rahimahullah [1] berkata: “Senantiasa Rabbmu (Allah Azza wa Jalla) mendekatkan hari Kiamat, sampai-sampai Dia menjadikannya seperti besok”[2].

Semoga Allah Azza wa Jalla meridhai Sahabat yang mulia Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu yang telah mengingatkan hal ini dalam ucapannya yang terkenal: “Hisablah (introspeksilah) dirimu saat ini, sebelum kamu dihisab (diperiksa/dihitung amal perbuatanmu pada hari kiamat). Timbanglah dirimu saat ini, sebelum amal perbuatanmu ditimbang (pada hari Kiamat), karena sesungguhnya akan mudah bagimu menghadapi hari kiamat jika kamu mengintrospeksi dirimu saat ini; dan hiasilah dirimu dengan amal shaleh untuk menghadapi hari yang besar ketika manusia dihadapkan kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman :

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنكُمْ خَافِيَةٌ

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Allah), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya)” [al-Hâqqah/69:18] [3]

Senada dengan ucapan di atas, Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat telah datang menghampiri kita, dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini waktunya beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok di akhirat adalah saat perhitungan dan tidak ada waktu lagi untuk beramal”[4].

“JADILAH KAMU DI DUNIA SEPERTI ORANG ASING…”
Dunia adalah tempat persinggahan sementara dan sebagai ladang akhirat tempat kita mengumpulkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju negeri yang kekal abadi itu. Barangsiapa yang mengumpulkan bekal yang cukup, maka dengan izin Allah Azza wa Jalla dia akan sampai ke tujuan dengan selamat, dan barang siapa yang bekalnya kurang maka dikhawatirkan dia tidak akan sampai ke tujuan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sikap yang benar dalam kehidupan di dunia dengan sabdanya: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan” [5]

Hadits ini sebagai nasehat bagi orang beriman, bagaimana seharusnya dia menempatkan dirinya dalam kehidupan di dunia. Karena orang asing (perantau) atau orang yang sedang melakukan perjalanan adalah orang yang hanya tinggal sementara; tidak terikat hatinya pada tempat persinggahannya, serta terus merindukan kembali ke kampung halamannya. Demikianlah keadaan seorang Mukmin di dunia yang hatinya, selalu terikat dan rindu kembali ke kampung halaman yang sebenarnya, yaitu surga tempat tinggal pertama kedua orang tua kita, Adam Alaihissallam dan istrinya Hawa, sebelum mereka berdua diturunkan ke dunia.

Dalam sebuah nasehat tertulis yang disampaikan oleh Imam Hasan al-Bashri rahimahullah kepada Imam Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, beliau berkata: “…Sesungguhnya dunia adalah negeri perantauan dan bukan tempat tinggal yang sebenarnya, dan hanyalah Adam Alaihissallam diturunkan ke dunia untuk menerima hukuman akibat perbuatan dosanya…” [6].

Dalam mengungkapkan makna hal ini Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam syairnya:
Marilah (kita menuju) surga ‘Adn (tempat menetap)
karena sesungguhnya itulah
Tempat tinggal kita yang pertama, yang di
dalamnya terdapat kemah (yang indah)
Akan tetapi kita (sekarang dalam) tawanan musuh
(setan), maka apakah kamu melihat
Kita akan (bisa) kembali ke kampung halaman
kita dengan selamat? [7]

Sikap hidup ini menjadikan seorang Mukmin tidak panjang angan-angan dan terlalu muluk dalam menjalani kehidupan dunia, karena “barangsiapa yang hidup di dunia seperti orang asing, maka dia tidak punya keinginan kecuali mempersiapkan bekal yang bermanfaat baginya ketika kembali ke akhirat. Dia tidak berambisi dan berlomba bersama orang-orang yang mengejar kemewahan dunia, karena keadaannya seperti perantau, yaitu tidak merasa risau dengan kemiskinan dan rendahnya kedudukannya.” [8].

Inilah yang diisyaratkan ‘Abdullâh bin Umar Radhiyallahu ‘anhu : “Jika kamu berada di waktu sore maka janganlah menunggu datangnya waktu pagi; dan jika kamu erada di waktu pagi maka janganlah menunggu datangnya waktu sore. Gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan masa hidupmu sebelum kematian menjemputmu” [9].

Bahkan inilah makna zuhud di dunia yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah : “Maknanya adalah tidak panjang angan-angan, yaitu seseorang yang ketika berada di waktu pagi dia berkata: “Aku khawatir tidak akan bisa mencapai waktu sore lagi”” [10].

“BERBEKALLAH, DAN SUNGGUH SEBAIK-BAIK BEKAL ADALAH TAKWA”
Sebaik-baik bekal untuk perjalanan ke akhirat adalah takwa, yang berarti “menjadikan pelindung antara diri seorang hamba dengan siksaan dan kemurkaan Allah Azza wa Jalla yang dikhawatirkan akan menimpanya, yaitu (dengan) melakukan ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat kepada-Nya” [11].

Maka sesuai dengan keadaan seorang hamba di dunia dalam melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan meninggalkan perbuatan maksiat, begitu pula keadaannya di akhirat kelak. Semakin banyak dia berbuat baik di dunia akan semakin banyak pula kebaikan yang akan di raihnya di akhirat nanti, yang berarti semakin besar pula peluangnya meraih keselamatan menuju surga.

Inilah di antara makna yang diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Setiap orang akan dibangkitkan (pada hari Kiamat) sesuai dengan keadaannya sewaktu dia meninggal dunia” [12]. Artinya dia akan mendapatkan balasan pada hari kebangkitan kelak sesuai dengan amal baik atau buruk yang dilakukannya sewaktu di dunia [13].

Landasan utama takwa adalah dua kalimat syahadat: Lâ ilâha illallâh dan Muhammadur Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Oleh karena itu, sebaik-baik bekal yang perlu dipersiapkan untuk selamat dalam perjalanan besar ini adalah memurnikan tauhid (mengesakan Allah Azza wa Jalla dalam beribadah dan menjauhi perbuatan syirik) yang merupakan inti makna syahadat Lâ ilâha illallâh dan menyempurnakan al ittibâ’ (mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi perbuatan bid’ah) yang merupakan inti makna syahadat Muhammadur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Azza wa Jalla akan memudahkan bagi manusia dalam menghadapi peristiwa besar yang akan dialami mereka pada hari kiamat, sesuai dengan pemahaman dan pengamalan mereka terhadap dua landasan utama Islam ini sewaktu di dunia.

Ujian keimanan dalam kubur merupakan peristiwa besar pertama yang akan dialami manusia setelah kematiannya. Mereka akan ditanya oleh dua malaikat yaitu Munkar dan Nakir [14] dengan tiga pertanyaan: “Siapa Tuhanmu?, apa agamamu? Dan siapa nabimu?” [15]. Allah Azza wa Jalla hanya menjanjikan kemudahan dan keteguhan iman ketika menghadapi ujian besar ini bagi orang-orang yang memahami dan mengamalkan dua landasan Islam ini dengan benar, sehingga mereka akan menjawab: “Tuhanku adalah Allah Azza wa Jalla, agamaku adalah Islam dan Nabiku adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . “ [16]

Allah Azza wa Jalla berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki” [Ibrâhim/14:27]

Makna ‘ucapan yang teguh’ dalam ayat ini ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahîh riwayat al-Bara’ bin ‘âzib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang Muslim ketika ditanya di dalam kubur (oleh Malaikat Munkar dan Nakir) maka dia akan bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah (Lâ Ilâha Illallâh) dan bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah (Muhammadur Rasulullah), itulah makna firman-Nya: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat” [17]

Termasuk peristiwa besar pada hari Kiamat adalah mendatangi telaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang penuh kemuliaan, warna airnya lebih putih daripada susu, rasanya lebih manis daripada madu, dan baunya lebih harum daripada minyak wangi misk (kesturi), barangsiapa yang meminum darinya sekali saja maka dia tidak akan kehausan selamanya [18]. Dalam hadits yang shahîh [19] juga disebutkan bahwa ada orangorang yang dihalangi dan diusir dari telaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Hal itu karena sewaktu di dunia mereka berpaling dari petunjuk dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terjerumus dalam masalah bid’ah.

Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah [20] berkata: “Semua orang yang melakukan perbuatan bid’ah yang tidak diridhai Allah Azza wa Jalla dalam agama ini akan diusir dari telaga Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang paling parah di antara mereka adalah orang-orang (ahlul bid’ah) yang menyelisihi pemahaman jama’ah kaum Muslimin, seperti orang-orang Khawârij, Syî’ah, Râfidhah dan para pengikut hawa nafsu. Demikian pula orangorang yang berbuat zhalim yang melampaui batas dan menentang kebenaran, serta orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan. Mereka semua dikhawatirkan termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits ini (yang diusir dari telaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) [21].

Termasuk peristiwa besar pada hari Kiamat adalah melintasi ash-Shirâth (jembatan) yang dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam, di antara surge dan neraka. Dalam hadits yang shahîh [22] disebutkan bahwa keadaan orang yang melintasi jembatan tersebut bermacam-macam; sesuai dengan amal perbuatan mereka sewaktu di dunia. “Ada yang melintasinya secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda pacuan yang kencang, ada yang secepat menunggang onta, ada yang berlari, ada yang berjalan, ada yang merangkak, dan ada yang disambar dengan pengait besi kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahannam” [23] – na’ûdzu billâhi min dâlik – .

Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullah ketika menjelaskan perbedaan keadaan orang-orang yang melintasi jembatan tersebut, mengatakan : “Ini semua bukan atas pilihan masing-masing orang, karena kalau dengan pilihan sendiri tentu semua orang ingin melintasinya dengan cepat. Akan tetapi keadaan manusia sewaktu melintasinya sesuai dengan cepat atau lambatnya mereka dalam menerima dan mengamalkan syariat Islam di dunia ini. Barangsiapa yang bersegera dalam menerima petunjuk dan sunnah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan cepat melintasinya. Sebaliknya barangsiapa yang lambat dalam hal ini, maka dia akan lambat melintasinya; sebagai balasan yang setimpal, dan balasan itu sesuai dengan jenis perbuatannya” [24].

“BALASAN AKHIR YANG BAIK (SURGA) BAGI ORANG-ORANG YANG BERTAKWA”
Akhirnya, perjalanan manusia akan sampai pada ujungnya; surga yang penuh kenikmatan, atau neraka yang penuh dengan siksaan yang pedih. Di sinilah Allah Azza wa Jalla akan memberikan balasan yang sempurna bagi manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia. Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَأَمَّا مَن طَغَىٰ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” [an Nâzi’ât/79:37-41]

Maka balasan akhir yang baik hanya Allah Azza wa Jalla peruntukkan bagi orang-orang yang bertakwa dan membekali dirinya dengan ketaatan kepada-Nya, serta menjauhi perbuatan yang menyimpang dari agama-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, dan kesudahan (yang baik) itu (surga) adalah bagi orang-orang yang bertakwa” [al-Qashash/28:83]

Syaikh Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah berkata: “…Jika mereka tidak mempunyai keinginan untuk menyombongkan diri atau berbuat maksiat di muka bumi, maka berarti keinginan mereka hanya tertuju kepada Allah Azza wa Jalla. Tujuan mereka hanya mempersiapkan bekal untuk akhirat, dan keadaan mereka sewaktu di dunia selalu merendahkan diri kepada hamba-hamba Allah; serta selalu berpegang kepada kebenaran dan mengerjakan amal shaleh. Mereka itulah orang-orang bertakwa yang akan mendapatkan balasan akhir yang baik (surga dari Allahk).” [25]

PENUTUP
Setelah merenungi tahapan-tahapan perjalanan besar ini, marilah bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita mempersiapkan bekal yang cukup agar selamat dalam perjalanan tersebut? Kalau jawabannya: belum, maka jangan berputus asa, masih ada waktu untuk berbenah diri dan memperbaiki segala kekurangan kita – dengan izin Allah Azza wa Jalla – Caranya, bersegeralah untuk kembali dan bertaubat kepada Allah k , serta memperbanyak amal shaleh pada sisa umur kita yang masih ada. Dan semua itu akan mudah bagi orang yang diberi Allah k taufik dan kemudahan baginya.

Imam Fudhail bin ‘Iyâdh rahimahullah [26] pernah menasehati seseorang lelaki, beliau berkata: “Berapa tahun usiamu “? Lelaki itu menjawab: “Enam puluh tahun.” Fudhail rahimahullah berkata: “Berarti sudah enam puluh tahun kamu menempuh perjalanan menuju Allah Azza wa Jalla ; dan mungkin saja kamu hampir sampai”. Lelaki itu menjawab: “Sesungguhnya kita ini milik Allah Azza wa Jalla dan akan kembali kepada-Nya.” Maka Fudhail rahimahullah berkata: “Apakah kamu paham arti ucapanmu? Kamu berkata bahwa aku milik Allah Azza wa Jalla dan akan kembali kepada-Nya; barangsiapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik Allah Azza wa Jalla dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapan-Nya pada hari kiamat. Barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapan-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas semua perbuatannya di dunia. Barangsiapa yang mengetahui akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya), maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya”. Maka lelaki itu bertanya: “Lantas bagaimana caranya untuk menyelamatkan diri ketika itu?” Fudhail rahimahullah menjawab: “Caranya mudah”. Lelaki itu bertanya lagi: “Apa itu?” Fudhail rahimahullah berkata: “Perbaikilah dirimu pada sisa umurmu, maka Allah Azza wa Jalla akan mengampuni dosamu di masa lalu, karena jika kamu tetap berbuat buruk pada sisa umurmu, maka kamu akan disiksa (pada hari Kiamat) karena dosamu di masa lalu dan pada sisa umurmu” [27].

Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan doa dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam [28] untuk kebaikan agama, dunia dan akhirat kita:

Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan penentu (kebaikan) semua urusanku, dan perbaikilah (urusan) duniaku yang merupakan tempat hidupku, serta perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku (selamanya), jadikanlah (masa) hidupku sebagai penambah kebaikan bagiku, dan (jadikanlah) kematianku sebagai penghalang bagiku dari semua keburukan.

Kota Nabi Shallallahu a’alaihi wa Sallam, 20 Shafar 1430 H
Abdullâh bin Taslîm Al-Buthoni

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Qatâdah bin Di’âmah As-Sadûsi Al-Bashri (wafat setelah tahun 110 H), adalah imam besar dari kalangan Tâbi’in yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (lihat kitab “Taqrîbut tahdzîb”, hal. 409).
[2]. Dinukil oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya “Ighâtsatul lahfân” (hal. 152-Mawâridul amân).
[3]. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau “Az Zuhd” (hal. 120), dengan sanad yang hasan.
[4]. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam “Az Zuhd” (hal. 130) dan dinukil oleh Imam Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitab beliau “Jâmi’ul ‘ulûmi wal hikam” (hal. 461).
[5]. HR al Bukhâri (no. 6053).
[6]. Dinukil oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya “Ighâtsatul Lahfân” (hal. 84 - Mawâridul amân).
[7]. Miftâhu Dâris Sa’âdah (1/9-10), juga dinukil oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau “Jâmi’ul ‘Ulûmi Wal Hikam” (hal. 462).
[8]. Ucapan Imam Ibnu Rajab dalam kitab “Jâmi’ul ‘Ulûmi Wal Hikam” (hal. 461), dengan sedikit penyesuaian.
[9]. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dalam kitab “Shahîhul Bukhâri” (no. 6053).
[10]. Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab “Jâmi’ul ‘Ulûmi Wal Hikam” (hal. 465).
[11]. Ucapan Imam Ibnu Rajab dalam kitab “ Jâmi’ul ‘Ulûmi Wal Hikam “ (hal. 196).
[12]. HR Muslim (no. 2878).
[13]. Lihat penjelasan al-Munâwi dalam kitab beliau “Faidhul qadîr” (6/457).
[14]. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat at-Tirmidzi (no. 1083) dan dinyatakan shahîh oleh Syaikh al-Albâni dalam “Ash- Shahîhah” (no. 1391).
(15)Hadits shahih riwayat Ahmad (4/287-288), Abu Dâwud (no. 4753) dan al-Hâkim (1/37-39), dinyatakan shahîh oleh al-Hâkim dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
[16]. Ibid.
[17]. HR al-Bukhâri (no. 4422), hadits yang semakna juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2871).
[18]. Semua ini disebutkan dalam hadits yang shahîh riwayat imam al-Bukhâri (no. 6208) dan Muslim (no. 2292).
[19]. Riwayat Imam al-Bukhâri (no. 6211) dan Muslim (no. 2304) dari Anas bin Mâlik rahimahullah.
[20]. Yûsuf bin Abdullâh bin Muhammad bin Abdul Barr An-Namari Al-Andalusi (wafat 463 H), adalah Syaikhul Islam dan Imam besar Ahlus Sunnah dari wilayah Magrib. Biografi beliau dalam kitab “Tadzkiratul huffâzh” (3/1128).
[21]. Kitab “Syarh Az-Zarqâni ‘Ala Muwaththa-Il Imâmi Mâlik” (1/65).
[22]. Riwayat imam al-Bukhâri (no. 7001) dan Muslim (no. 183) dari Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallahu 'anhu.
[23]. Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab beliau “Al-Aqîdah Al Wâsithiyyah” (hal. 20).
[24]. Kitab “Syarhul Aqîdatil Wâsithiyyah” (2/162).
[25]. Taisîrul karîmir Rahmân fî tafsîri kalâmil Mannân (hal. 453).
[26]. Fudhail bin ‘Iyâdh bin Mas’ûd At-Tamîmi (wafat 187 H), adalah seorang Imam besar dari dari kalangan atba’ut tâbi’în yang sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan seorang ahli ibadah (lihat kitab “Taqrîbut Tahdzîb”, hal. 403).
[27]. Dinukil oleh Imam Ibnu Rajab dalam kitab “Jâmi’ul ‘Ulûmi Wal Hikam” (hal. 464).
[28]. Dalam HR Muslim (no. 2720) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu .

HIKMAH BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

Tidak tersembunyi lagi bagi seorang muslim tentang pentingnya iman dan kedudukannya yang tinggi, serta nilainya yang demikian berharga di dunia maupun di akhirat. Bahkan seluruh kebaikan di dunia dan di akhirat tergantung pengaplikasian iman yang benar. Iman merupakan perkara yang selalu dicari. Meraihnya adalah keinginan yang besar dan tujuan terbaik. Dengannya seorang hamba mendapatkan kehidupan yang baik dan membebaskan diri dari segala macam marabahaya dan kejelekan. Dengannya pula dia akan mendapatkan pahala di akhirat dan kenikmatan yang abadi lagi berkesinambungan, yang tidak akan berpindah maupun hilang. Allah l berfirman:

“Barangsiapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

“Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedankang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Al-Isra’: 19)

“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal shalih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia).” (Thaha: 75)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah darinya.” (Al-Kahfi: 107-108) [Lihat Ushulul Iman fi Dhau'i Al-Kitab was Sunnah, 1/11]

Dunia Akan Berakhir

Apakah ada orang yang tidak percaya bahwa dunia ini akan berakhir?

Memang manis dan hijaunya dunia telah membutakan mata hati lalu mengaburkan penglihatan lahiriah manusia. Orang mungkin akan sulit percaya jika kelak Allah l akan melipat langit dan bumi ini dengan tangan kanan-Nya, lantas mengatakan “Aku adalah penguasa. Mana para penguasa di dunia?” Sesungguhnya imanlah yang menjadi intinya.

“Hari Kiamat. Apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu apa hari kiamat itu?Hari di mana manusia bagaikan kupu yang bertebaran, gunung-gunung bagaikan bulu-bulu yang dihamburkan.” (Al-Qari’ah: 1-5)

“Apabila Allah goncangkan dunia ini dengan goncangan yang dahsyat dan bumi mengeluarkan apa yang dikandungnya. Manusia bertanya-tanya: Ada apa ini? Dunia bercerita pada hari itu bahwa Allah telah mewahyukan kepadanya.” (Al-Zalzalah: 1-5)

“Apabila bumi digoncangkan dengan sedahsyat-dahsyatnya dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu yang beterbangan dan kamu menjadi tiga golongan.” (Al-Waqi’ah: 4-7)

“Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta bunting ditinggalkan, dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan.” (At-Takwir: 1-7)

"Apabila langit dibelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan.” (Al-Infithar: 1-5)

"Dan apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Dan apabila bumi diratakan dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya, dan menjadi kosong dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. Pada waktu itu manusia mengetahui akibat perbuatannya.” (Al-Insyiqaq: 1-5)

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian, sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar. Ingatlah ketika kamu melihat kegoncangan itu lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk akan tetapi azab Allah l itu sangat keras.” (Al-Hajj: 1-2)

Itulah beberapa pemberitahuan Allah l tentang hari penutup kehidupan dunia ini dan kengerian yang tidak akan bisa dicerna. Tsunami yang telah meluluhlantakkan Aceh merindingkan bulu kuduk karena ngeri dan dahsyatnya. Gempa bumi yang menggoncang Yogyakarta, dianggap telah menelan korban dan kerugian materi demikian besar. Pun musibah besar lainnya di seluruh dunia. Coba renungi berita Allah l tentang hari kiamat! Lalu bandingkan dengan seluruh peristiwa besar di dunia ini, sebandingkah?



Hari akhir dan keimanan kepadanya

Dinamakan hari akhir karena tidak ada hari setelahnya, yaitu tatkala Allah l membangkitkan manusia untuk sebuah kehidupan yang abadi, kemudian mereka mendapatkan ganjaran atas usaha dalam hidup mereka, apakah kenikmatan atau kecelakaan. Mengimani hari akhir sesungguhnya terkait dengan banyak hal yang harus diilmui yaitu beriman tentang tanda-tanda hari kiamat –permasalahan ini telah dibahas pada edisi-edisi sebelumnya–, mengimani adanya nikmat dan siksa kubur, mengimani hari kebangkitan, mengimani adanya al-haudh (telaga yang dimiliki oleh Rasulullah n), mengimani timbangan amal, mengimani adanya syafaat, shirath (jembatan), pemberian lembaran catatan amal, dan mengimani keberadaan surga serta neraka. Semuanya ini merupakan rangkaian dalam beriman kepada hari akhir.



Manusia pada hari akhir

Sebagaimana terjadinya perbedaan yang tajam dalam kehidupan manusia di dunia ini, begitu juga di akhirat. Di dunia ada yang taat dan ada yang jahat, ada yang bertakwa dan tidak, ada yang mukmin dan kafir, ada yang shalih dan thalih, ada yang kaya disertai syukur dan ada yang tidak, ada yang miskin disertai sabar dan ada yang tidak. Semuanya ini sebagai gambaran akan terjadinya perbedaan yang besar kelak di akhirat. Di dunia Allah l telah mengangkat kedudukan orang yang beriman dan orang yang taat kepada-Nya. Demikian pula kelak di akhirat, Allah l akan membalasnya lebih dari apa yang telah diperbuatnya di dunia. Sebaliknya Allah l telah menghinakan orang-orang yang bermaksiat, ingkar dan kufur di dunia. Begitu juga Allah l akan membalasnya dengan yang setimpal kelak.

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya, dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gelita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Ingatlah) suatu hari (ketika itu), kami mengumpulkan mereka semuanya, kemudian kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Allah): “Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempatmu itu.” Lalu kami pisahkan mereka dan berkatalah sekutu-sekutu mereka: “Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami.” (Yunus: 26-28)

“Dan kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga.” (Maryam: 86)

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As-Sajadah: 22)

Allah l tidak menyamakan mereka di dunia terlebih kelak di akhirat:

“Maka apakah patut kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” (Al-Qalam: 35)

“Patutkah kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” (Shad: 28)



Buah beriman kepada hari akhir

1. Cinta dan semangat dalam melaksanakan ketaatan, mengharapkan ganjaran pada hari itu.

Mencintai sebuah ketaatan merupakan sebuah anugerah dari Allah l bagi siapa yang dikehendaki-Nya, begitu juga bersemangat tinggi terhadapnya. Orang yang cinta, dia tidak memiliki beban dalam melaksanakan ketaatan tersebut.

Kita telah mengetahui bahwa bentuk ketaatan yang paling besar di dalam agama adalah mewujudkan ketauhidan kepada Allah l. Allah l berfirman:

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkann agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Jika seorang hamba mencintai bentuk ketaatan yang paling besar dan dia bersemangat untuk merealisasikannya di dalam hidup, niscaya dia akan menjadi orang yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah l dan otomatis paling tinggi derajatnya di dunia. Semua risiko dalam mewujudkan ketaatan akan dia hadapi dengan lapang dada dan penuh kesabaran. Dia mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang ingin melaksanakan ketaatan melainkan telah mendapatkan ujian dan cobaan dari sisi Allah l. Sejarah perjalanan hidup para nabi dan rasul menjadi contoh pertama sekaligus sebagai suri teladan yang baik dalam hidup. Duri-duri dan kerikil-kerikil tajam siap menusuk, gelombang dahsyat siap mengempaskan ke jurang yang tajam dan menganga. Apakah Anda termasuk orang yang berhasil dan selamat, atau tidak? Pertolongan Allah l sajalah yang harus Anda minta.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Nabi n memerintahkan setiap orang yang beriman untuk bersemangat melaksanakan segala yang bermanfaat dan meminta bantuan kepada Allah l, dan ini sangat sesuai dengan firman Allah l: ‘Kepada-Mulah kami menyembah dan kepada-Mulah kami meminta'. Juga seruan Nabi Hud q: ‘Sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya.’ Maka semangat untuk meraih yang bermanfaat bagi seorang hamba adalah semangat dalam ketaatan kepada Allah l dan menyembah-Nya, karena yang paling bermanfaat baginya adalah ketaatan kepada Allah l. Tidak ada yang paling bermanfaat bagi seorang hamba kecuali itu. Segala sesuatu yang membantu dalam ketaatan kepada Allah l, merupakan suatu ketaatan pula, kendatipun perkara itu adalah mubah.” (Lihat Amradhul Qulub hal. 50)

Beliau t juga berkata: “Sesungguhnya semua kebaikan itu ada dalam ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya. Sedangkan semua kejahatan itu terletak dalam bermaksiat kepada Allah l dan Rasul-Nya.” (Iqamatu Ad-Dalil ‘ala Ibthalu At-Tahlil 3/54)

Beliau juga berkata: “Tidaklah ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya sebagai sebab musibah dan tidaklah taat kepada Allah l melainkan pelakunya akan mendapatkan dua kebaikan dunia dan akhirat.” (Al-Hasanah was Sayyiah hal. 36 )

Ibnu Qayyim t berkata: “Al-Hasan t berkata: ‘Sungguh telah beruntung orang yang mensucikan dirinya dan memperbaikinya serta memandunya menuju ketaatan kepada Allah l. Dan merugilah orang yang telah membinasakan dirinya dan memandunya menuju kemaksiatan kepada Allah l.” (Ighatsatu Al-Lahafan 1/51)

2. Lari dari perbuatan maksiat dan tidak meridhainya karena takut akan azab pada hari itu.

Menyelamatkan diri dari perbuatan maksiat dan melindungi diri darinya merupakan sebuah anugerah yang besar dari Allah l, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena tidak ada satu pun bentuk kemasiatan melainkan sangat digandrungi oleh jiwa, bersamaan dengan itu amat sangat sejalan dengan keinginan Iblis dan bala tentaranya. Siapa yang tidak menyukai kemaksiatan akan menjadi ejekan dan olokan Iblis sekaligus menjadi sasaran bisikan jahatnya. Orang yang beriman kepada hari akhir akan berusaha untuk menyabarkan diri dari segala perbuatan maksiat yang disenangi oleh nafsu dan setan. Semuanya ini dia lakukan semata-mata mengharapkan balasan dan ganjaran pada hari kekekalan.

Allah l berfirman

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)



3. Hiburan bagi orang yang beriman.

Adanya hari akhir bagi orang yang beriman sesungguhnya merupkan penghibur. Mengapa? Karena Allah l telah mempersiapkan segala kesenangan yang tidak pernah didapatkan di dunia sebagai balasan dan ganjaran dari sisi-Nya. Surga sebagai tempat kenikmatan yang akan diberikan kepada orang-orang yang menutup kehidupan di atas ketaatan, dan melihat Allah l sebagai kenikmatan yang paling besar buat mereka.

Kalau kita mau melihat dengan kacamata yang bersih, niscaya kita akan mengetahui bahwa tidaklah berarti kekurangan dan kesengsaraan hidup di dunia bila diganti dan dibandingkan dengan kesenangan yang dipersiapkan oleh Allah l di sisinya kelak. Ironisnya, hal ini seringnya luput dari benak. Di mana orang merasa hina jika dia menjadi pekerja rendahan, pencari kayu bakar, tukang becak, pemulung, dan sebagainya. Padahal jika dia bersabar, itu hanyalah sesaat untuk kemudian mendapatkan kenikmatan yang abadi dan tidak berakhir. Mungkin orang akan selalu bersedih terhadap segala ujian yang menimpanya. Bahkan karena besarnya ujian yang disertai tertutupnya jalan keluar, seringkali seseorang putus asa dengan mengakhiri hidupnya dengan cara yang sadis dan tidak masuk akal. Hal ini terjadi karena tidak adanya iman, atau lemahnya iman pada dirinya akan adanya hari akhir sebagai hari pembalasan.

Mari kita merenungi untaian firman-firman Allah l dan sabda-sabda Rasulullah n.

Allah l berfirman:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Baqarah: 214)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.”(Ali 'Imran: 142)

Jihad dapat berarti:

1. berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam;

2. memerangi hawa nafsu;

3. mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam;

4. memberantas yang batil dan menegakkan yang haq.

Dari Abu Hurairah z: Aku mendengar Rasulullah n bersabda:

يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Allah berfirman: ‘Tidak ada balasan bagi orang yang beriman di sisiku bila Aku mengambil kekasihnya di dunia lalu dia bersabar melainkan surga’.” (HR. Al-Bukhari no. 5944)

Mana yang lebih berharga di dalam hidupmu, orang yang sangat kamu cintai atau surga? Orang yang beriman tentu akan mengatakan surga.

Dari Anas bin Malik berkata: Aku telah mendengar Rasulullah n bersabda:

إِنَّ اللهَ قَالَ :إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ (يُرِيدُ عَيْنَيْهِ)

“Sesungguhnya Allah telah berfirman: ‘Apabila aku menguji hamba-Ku dengan Aku mengambil kedua penglihatannya dan dia bersabar, niscaya aku akan menggantikan keduanya dengan surga’.” (HR. Al-Bukhari no. 5221)

Saudaraku, mana yang lebih berharga dalam hidupmu, surga atau kedua penglihatanmu? Tentunya orang beriman akan menjawab surga. Oleh karena itu, bersabarlah sesaat dalam menghadapi segala ujian hidup untuk mendapatkan gantinya kelak di akhirat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

4 Appreciated Responses:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

Sundul gan! Ane ga kenal yang namanya spam...